Jakarta
Tokyo
London
New York
Sydney
Latest News :

Popular Posts

Showing posts with label oil. Show all posts
Showing posts with label oil. Show all posts

Energy: Why Lower Natural Gas Prices Help the U.S. Only a Little

April 30, 2012

There’s a rule of thumb that says a $10 rise in the price of a barrel of oil reduces gross domestic product growth by anywhere from 0.2 to 0.5 percentage points. Applied over the past six months, when crude prices rose by about $30 from early October to the end of March, that means dearer oil might’ve chewed as much as 1.5 percent out of GDP growth during the last two quarters. Not a trivial amount considering GDP increased 3 percent in the fourth quarter of 2011. Economists surveyed by Bloomberg tend to think the economy grew just 2.2 percent in the first three months of 2012, when the price of gas really took off.

Oil is our economy’s most important raw material. The price of it (and therefore, gasoline) impacts the price of just about everything we buy, from groceries to clothes to appliances. The more expensive oil is, the more expensive a whole lot of other stuff becomes. But what about that other gas, the kind that we’re practically swimming in these days? Natural gas is now 80 percent cheaper than it was four years ago. How much has that price decline counteracted our recent pain at the pump?

Unfortunately, not much. On the consumer side, at best you’ve seen a small reduction in your electricity bill. Natural gas has certainly played a part in slowing the pace of rising residential electricity prices, from an average annual increase of 5 percent between 2003 and 2008, to 0.8 percent from 2009 through 2013. Rates are actually forecast to fall 1.4 percent next year. According to the consumer price index, the cost of utility gas service for heating declined 9.1 percent over the past year. But that’s a relatively tiny portion of what we spend our money on—less than 1 percent. Motor fuels, on the other hand, carry a relative importance of 5.8 percent and have increased 9 percent in price over the past 12 months. So whatever you might’ve saved on your electric or home heating bill, you probably plowed right back into your gas tank.

Cities with public buses that run on compressed or liquefied natural gas have benefited from lower fuel costs. And if you happen to be one of the handful of people in the U.S. who drive a natural gas car, you’re probably coming out ahead on your fuel bill every month—especially in California, which has the bulk of the country’s 400 public natural gas fueling stations, and where regular gasoline prices are among the highest.

Manufacturers have certainly benefited from lower natural gas prices. The fuel is a particularly critical input for the petrochemical and refining industry, giving U.S. firms a big cost advantage over international competitors—as much as 70 percent over manufacturers in South Korea and Europe. Whether cheap natural gas is propelling any of the strong job growth in the manufacturing sector over the past couple years is debatable. It’s certainly making a lot of manufacturers more profitable. On the flip side, it’s been bad for producers. As prices have plummeted it’s become uneconomical to keep drilling for gas. There’s a good chance that if you were working on a natural gas drill rig a year ago, you’re not anymore.

Big picture as of today, cheap natural gas hasn’t done much to counteract the run-up in oil prices. “So far it’s been a pretty small positive,” says Mark Zandi, chief economist at Moody’s. That doesn’t mean that in the future it won’t pay big dividends for the U.S.—particularly, as Zandi points out, if we’re able to get more natural gas into our transportation network. T. Boone Pickens wants to retrofit our long-haul trucking fleet to run off natural gas. There’s evidence that’s starting to happen. If done on a large enough scale, that could take a big bite out of the impact high oil prices play in driving up the costs of goods.

We’re also severely limited in our capacity to export natural gas right now. The U.S. has just one export facility, in Alaska. A recently approved LNG export terminal in Louisiana will bring that to a grand total of two once completed in 2015. Regulators aren’t likely to approve any more LNG export projects in the coming year, though they probably will in the future. Depending on domestic demand, abundant natural gas could significantly reduce the U.S. trade deficit and perhaps turn us into a net exporter.

Although we have massive amounts of natural gas—an estimated 2,214 trillion cubic feet, enough to last 100 years by some measures—we still don’t use that much of it. Case in point: We’re drilling so much and using so little, it’s conceivable that we’ll max out our 4.3 trillion cubic feet of storage capacity at some point this year. Americans burn about 22 trillion cubic feet of natural gas every year, enough to fill up about 595,000 Empire State Buildings. But we could use a whole lot more, and certainly will soon. Until we do, the U.S. economy won’t see that big of an upside from cheap prices.



 Source : Bloomberg Businessweek

Berita Dari Yunani Segarkan Minyak

February 10, 2012

Harga minyak mentah menambah gain pada hari Kamis dalam berita bahwa pemimpin politik di Yunani menyetujui langkah pengetatan yang dibutuhkan untuk mendapatkan bailout kedua guna menghindari default. 

Dinginnya cuaca di Eropa, penurunan pada klaim pengangguran mingguan di AS serta ketegangan Timur Tengah yang dipicu oleh program nuklir Iran ditambah meningkatnya kekerasan di Siria juga turut mendukung minyak. Investor tidak menghiraukan perkiraan bulanan dari OPEC, yang memangkas perkiraan pertumbuhan permintaah minyak global tahun ini sebanyak 120,000 barel per hari menjadi 940,000 bpd, terkait masalah hutang zona Eropa dan naiknya harga eceran.

"Situasi geopolitik di sekitar Timur Tengah membuat harga minyak naik… terutama di Iran, cuaca yang sangat dingin yang menyerang sebagian negara Eropa mendorong permintaan minyak pemanas, begitu juga dengan kesepakatan Yunani yang sudah akan terselesaikan," ucap Dominick Chirichella, mitra senior pada Energy Management Institute di New York.



Sumber: Monexnews

Membaca Masa Depan Produsen Minyak Dunia

February 08, 2012

Periode kejayaan produsen energi masih berlangsung tahun lalu. Perusahaan minyak multi-nasional terus meraup laba besar dari tahun ke tahun. Namun merebak kecemasan di kalangan anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) terkait sumber eksplorasi baru di masa depan.

Rasio permintaan minyak terus melonjak. Rostam Ghasemi, Kepala OPEC asal Iran untuk 2011, memperkirakan volume permintaan tahun ini mencapai 1,1 juta barel per hari. Sebanyak 12 perusahaan minyak terbesar jagad raya bahkan memproyeksikan tingkat permintaan konsisten bertambah sampai tahun 2035.

Sebagai catatan, beberapa produsen besar melaporkan laba berlimpah dari kinerja operasional 2011. British Petroleum (BP) mencetak keuntungan $23,9 miliar. Sementara Royal Dutch Shell meraup $30,9 miliar atau sedikit di bawah perolehan laba ExxonMobil, yang menembus $41,1 miliar.

Hasil yang cukup impresif, namun tidak cukup meredam kekhawatiran pihak manajemen masing-masing perseroan. Hari ini, sebanyak 90% minyak mentah dunia dipompa keluar oleh pihak BUMN dari negara-negara seperti Rusia, Arab Saudi, Venezuela dan Iran. Perusahaan swasta multi-nasional hanya kebagian porsi pengelolaan dalam jumlah kecil.
Kendala utama dari eksplorasi minyak kini tidak lagi tertuju pada faktor biaya operasional maupun iklim. Alasan teknis dan kepentingan politik sudah menjadi sentimen utama dalam lima tahun belakangan. Siapa yang memiliki kekuatan politik di wilayah penghasil minyak, maka ia berhak menentukan ke mana sumber daya alam tersebut akan 'dijual'. Salah satu contoh nyata adalah kisruh politik Iran. Banyak pihak bertanya, jika embargo diberlakukan maka siapa yang mempunyai akses terhadap salah satu lahan minyak terbesar dunia itu. Kondisi serupa berlaku di Libya, limpahan emas hitam di negara Khadafi mulai mubazir karena belum disedot ke permukaan. Belum lagi masalah politik di Mesir dan Nigeria. Kisruh kekuasaan dan kesejahteraan membuat kilang-kilang minyak di kedua negara dibekukan hingga waktu yang belum jelas.

Salah satu fakta mengejutkan tampak pada laporan tahun OPEC. Di situ terlihat bahwa cadangan minyak terbesar bukan ada di kawasan Arab, tapi tertimbun di bawah tanah Venezuela. Volumenya diprediksi mencapai 297 juta barel atau di atas volume minyak di Arab Saudi, yang cadangannya tinggal tersisa 40% lagi menurut Wikileaks. Perusahaan besar Eropa sudah membuktikan betapa sulitnya meminta jatah eksplorasi dari meja administrasi Hugo Chavez. Exxon beberapa tahun lalu sempat memenangkan tender pengelolaan minyak Venezuela. Namun tiba-tiba Hugo Chavez membatalkan kesepakatan secara sepihak karena ia ingin menasionalisasi lahan yang sudah menjadi hak eksplorasi Exxon. Alhasil perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar ke dua dunia itu merasa gerah dan menggugat badan usaha negara, PDVSA. BUMN Venezuela itu akhirnya 'hanya' menawarkan kompensasi $255 juta atau jauh di bawah nilai gugatan Exxon sebesar $7 miliar. Kebijakan pemerintah Chavez layak dilihat sebagai tamparan keras bagi perusahaan paling disegani di dunia itu.

Meski demikian, perusahaan-perusahaan energi global pasti akan tetap melaba tahun ini. Mengingat masih begitu banyak lahan yang bisa digarap, setidaknya untuk lima tahun ke depan. BP sudah mengumumkan 12 rencana tes pengeboran untuk tahun 2012, dua kali lipat dibanding jumlah pengujian tahun lalu. Sementara 6 proyek ekstraksi juga siap diluncurkan oleh BP dalam beberapa bulan ke depan. Sementara Shell terus memfokuskan diri pada pengembangan proyek penyulingan. Tujuannya adalah agar pengelolaan minyak bisa lebih cepat dan efisien. Sedangkan PetroChina sudah menginvestasikan $5,4 miliar untuk beberapa proyek serta menjanjikan hasil eksplorasi yang lebih besar dibanding tahun sebelumnya. 

Grafik pergerakan harga minyak dalam 1 tahun terakhir

Kisaran harga minyak mentah yang masih berkutat di dekat $100 per barel adalah jaminan akan raihan laba besar bagi korporasi energi global di tahun 2012. Rapor keuangan masing-masing perusahaan masih aman selama cadangan minyak di negara-negara maju dan wilayah Arab tetap surplus. Setelah itu, semua bergantung pada pergeseran peta politik dunia dalam satu dasawarsa ke depan. Iran dan Venezuela akan memegang peran sentral dalam perdagangan minyak global. Meski tidak ada yang bisa menjamin kondisi politik di kawasan penyuplai akan baik-baik saja untuk waktu lama.



Sumber: 
- Monexnews
- Oil & Gas Journal
- Wikileaks
- OPEC.org
- Energy Watch Group

Minyak Menguat Saat Persediaan Anjlok

Kontrak minyak mentah AS naik dalam dua hari, hari Rabu ini untuk bergerak dekat $99 per barel, tertolong oleh adanya penurunan persediaan minyak mentah AS.

Kontrak minyak mentah AS untuk pengiriman bulan Maret naik 31 sen menjadi $98.72 per barel, setelah bertahan naik $1.50 atau sekitar 1.6%, di level $98.41 hari Selasa.

Sebuah kilang yang melakukan pengolahan minyak Kanada diperkirakan akan ditutup untuk 2 atau 3 minggu, memberikan dukungan kenaikan minyak mentah AS.

Setelah penyelesaian kontrak hari Selasa. American Petroleum Institute melaporkan adanya penurunan persediaan sebesar 4.5 juta barel di minggu ke 3 hingga 3 Februari, mengalahkan perkiraan kenaikan persediaan sebesar 2.4 juta barel yang dilakukan oleh Reuters.



Sumber: Monexnews

Perdagangan Iran Dengan Asia Melambat Terimbas Sanksi AS

February 07, 2012

Perdagangan antara Asia dengan Iran kemungkinan akan terpengaruh oleh sanksi yang diterapkan AS menyebabkan pembayaran lebih sulit, meskipun pada akhirnya masih bisa ditemukan intermediasi melalui rute Timur Tengah.

Presiden Barack Obama telah menyetujui langkah baru untuk memperpanjang sanksi pada semua institusi keuangan Iran serta lembaga keuangan lainnya yang berhubungan dengan Iran dan melakukan bisnis di AS untuk memblokir dan membekukan transaksi yang dicurigai mengalir ke Iran.

Sanksi sebelumnya hanya berupa penolakan transaksi tersebut dilakukan oleh perbankan Amerika.
Importir Asia untuk minyak, bahan bakar dan batubara Iran kemungkinan akan terkena imbas pembayaran transaksi tersebut. Di samping itu Iran terpaksa akan bergantung pada mata uang yang kurang likuid, dan menambah biaya perdagangan dan memberi tekanan pada mata uang Iran.

Salah satu pedagang Beras di India contohnya menyatakan ketidaksanggupan setelah terjadi devaluasi mata uang Rial secara dramatis menyebabkan konversi Rial ke dollar untuk dibayar ke India menjadi semakin mahal.



Sumber: Monexnews

Jelang Payrolls, Minyak Masih Kuat

February 03, 2012

Menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat malam nanti, harga minyak mentah terpantau kuat di sepanjang sesi Asia.

Kontrak minyak utama New York, light sweet pengiriman Maret, meraih 3 sen untuk menuju level $96.39 per barel. Sementara Brent North Sea Maret menguat sampai 18 sen ke $112.25 per barel.

"Investor komoditi minyak terlihat waspada sebelum rilis payrolls dan rerata pengangguran AS," ulas Phillip Futures dalam laporannya. Analis pasar memperkirakan jumlah tenaga kerja baru di bulan Januari turun dari 200.000 menjadi 155.000. Selain itu, rerata pengangguran diprediksi tidak berubah dari kisaran 8,5%. Artinya, fakta ekonomi di Amerika sesungguhnya belum mendukung penguatan harga lebih lanjut.



Sumber: Monexnews

CPO Melemah Karena Spekulasi

February 02, 2012

Jumlah ekspor crude palm oil Malaysia menurun dan memicu turunnya harga CPO.

Kontrak CPO untuk pengiriman April di Malaysia Derivative Exchange turun 0,7% menjadi RM3.058 atau $1.012 per metrik ton sebelum menutup sesi pagi di RM3.063 per metrik ton, menjadikan CPO terkoreksi dalam 3 hari terakhir berturut-turut.

Akhir Januari lalu surveyor Intertek melaporkan ekspor CPO Malaysia turun 12% sepanjang bulan tersebut menjadi 1,32 juta ton. Secara terpisah Societe Generale de Surveillance menyebutkan, pengiriman dari Malaysia turun 13% menjadi 1,28 juta ton, penurunan ini memicu kekhawatiran persediaan minyak sawit global akan melonjak.

Dengan produksi diperkirakan naik Maret mendatang, persediaan CPO Malaysia masih akan meningkat sementara ekspor masih akan melemah.



Sumber: Financeroll

Harga Minyak Mentah Naik, Terbatasi Data Suplai Minyak Mentah AS

Harga minyak mentah terombang-ambing antara naik-turun dalam perdagangan Rabu yang tertekan oleh kenaikan suplai minyak mentah AS.

Harga minyak mentah untuk kontrak bulan Maret ditutup pada harga $98.53  dengan kenaikan sebesar 7 sen atau hanya naik 0.1% dari penutupan perdagangan sebelumnya di bursa New York Mercantile Exchange.

Harga minyak mentah sempat menguat sebelum pemerintah AS mengumumkan suplai minyak mentah mereka yang secara mengejutkan naik 4.2 juta barel, diatas perkiraan pasar yang hanya memperkirakan kenaikan sebesar 3 juta barel.

Lembaga Informasi Energi AS, Energy Information Administration melaporkan bahwa suplai minyak mentah AS naik sebesar 4.2 juta barel dalam pekan yang berakhir pada tanggal 27 Januari. Kenaikan ini jauh diatas perkiraan sebelumnya, dimana Platts memperkirakan kenaikan hanya sebesar 3 juta barel.

EIA juga melaporkan bahwa stok gasoline juga naik sebesar 3 juta barel, sementara minyak suling menurun 100,000 barel. Perkiraan sebelumnya, gasoline akan naik 1 juta barel dan minyak suling akan turun hingga 1,2 juta barel.

Harga gasoline untuk kontrak Maret naik 3 sen  atau sebesar 0.8%, ke $2.92 per gallon.



Sumber: Financeroll

Persediaan Melimpah, Minyak Melemah

February 01, 2012

Minyak mentah nampak kesulitan untuk mempertahankan kenaikan yang terjadi pada awal perdagangan hari Kamis menyusul lonjakan persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu meredam optimisme yang terbangun oleh data manufaktur global. Penguatan yang diperlihatkan Dollar menjelang laporan ketenagakerjaan AS juga turut membebani harga minyak, di tengah berlanjutnya ketegangan Iran dan negara barat di Selat Hormuz.

Minyak mentah berjangka saat ini ditawarkan pada kisaran $96.80 per barel atau sekitar 0,85% di bawah harga pembukaan hari Kamis.

Persediaan minyak mentah AS melonjak lebih dari 4 juta barel pada minggu lalu, yang melampaui ekspektasi 3,2 juta barel. Permintaan untuk bensin juga mencatat penurunan hingga ke level terendah 11-tahun.

Namun data tersebut tidak sepenuhnya memupus outlook permintaan minyak mengingat aktivitas pabrik di AS, Jerman dan China, 3 negara dengan manufaktur terbesar di dunia, menunjukkan peningkatan pada bulan lalu. 

Sehingga menambah harapan bahwa ekonomi global tidak akan terseret oleh krisis hutang zona Euro, yang pada gilirannya akan menjaga prospek permintaan minyak.

"Data PMI China mendukung bias minyak tetap bullish," kata Jonathan Barratt, kepala eksekutif Barrat’s Bulletin.

Untuk selanjutnya para investor akan mencoba mencari petunjuk dari data ketenagakerjaan AS untuk menentukan arah selanjutnya.




 Sumber: Monexnews

Embargo Minyak Iran Membuat 70 Kilang Eropa Tutup

January 30, 2012

Direktur Badan Industri Minyak Italia, (Unione Petrolifera), Piero De Simone mengatakan embargo Uni Eropa terhadap sektor minyak Iran akan mengakibatkan penutupan lebih cepat sekitar 70 kilang Eropa.

"Italia sudah menghadapi risiko penutupan lima kilang minyak dan pada tingkat Eropa, kita berbicara tentang kemungkinan liburnya sekitar 70 kilang," ujar Piero De Simone kepada Bloomberg yang dilansir irib, Ahad (29/1).

Simone menyatakan keprihatinannya atas sanksi sepihak Barat terhadap Republik Islam. Ia menuturkan, embargo akan membantu importir minyak Asia untuk menjadi lebih kuat dalam melemahkan pesaing mereka di Eropa.

"Negara-negara Asia yang tidak menerapkan embargo bisa membeli minyak Iran dengan harga diskon dan menjual murah produk olahan kepada kami," jelas Simone.

Sekarang, tambah dia, Iran harus membongkar produksinya di suatu tempat dengan pembeli baru. Dalam pertemuan terbaru di Brussels pada 23 Januari, menteri luar negeri Uni Eropa menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran yang mencakup larangan pembelian minyak, pembekuan aset Bank Sentral Iran di Uni Eropa, dan larangan penjualan berlian, emas dan logam berharga lainnya ke Iran.



Sumber : Bloomberg

Latest News

Advertise

SHARIA STORE
 

© Copyright KABAR MARKET 2011 | Powered by Blogger.com.