Jakarta
Tokyo
London
New York
Sydney
Latest News :

Popular Posts

Showing posts with label IHSG. Show all posts
Showing posts with label IHSG. Show all posts

Investor Koleksi Saham Berbasis Konsumer, IHSG Menguat

May 01, 2012

ihsg-bursa-efek-indonesia
Sore ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 15 poin  akibat dorongan aksi beli di saham-saham berbasis konsumer atas kinerja emitennya yang positif.

Tingkat inflasi yang naik tidak menyurutkan aksi beli investor. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 9.180 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 9.190 per dolar.

Mengawali  perdagangan pagi tadi, Selasa (1/5) IHSG bertambah 0,594 poin (0,01%) ke level 4.181,326 alias bergerak stagnan menjelang pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) soal tingkat inflasi April. Pelaku pasar lakukan aksi wait and see.  Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat inflasi April 4,5% secara tahunan, dan bulanan 0,21%. Angka ini sedikit di atas ekspektasi pasar masing-masing sebesar 4,46% dan 0,20%.

Menutup  perdagangan sesi I, IHSG menipis 9,625 poin (0,24%) ke level 4.171,107 menyusul keluarnya pengumuman inflasi April yang sedikit di atas ekspektasi pasar. Aksi beli masih minim pada perdagangan hari ini.  Setelah terpuruk di posisi terendahnya hari ini di 4.170,712, aksi beli selektif mulai terjadi. Secara perlahan indeks mulai balik arah ke zona hijau dan sempat mendaki ke level 4.196,289.

Pada akhir  perdagangan, IHSG naik 15,252 poin (0,36%) ke level 4.195,984. Sementara Indeks LQ45 menguat 3,045 poin (0,42%) ke level 714,420.  Beberapa sama komoditas gagal balik arah ke teritori positif dan harus puas ditutup negatif. Sedangkan saham-saham konsumer memimpin penguatan bursa kali ini akibat aksi beli.

Pelaku pasar asing  tidak bergairah hari ini, dan transaksinya cukup tipis. Transaksi asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 6,375 miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 143.487 kali pada volume 9,478 juta lot saham senilai Rp 4,373 triliun. Sebanyak 119 saham naik, sisanya 143 saham turun, dan 104 saham stagnan.

Bursa saham China, Hong Kong, India, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand hari ini tutup karena libur nasional. Sementara bursa yang buka bergerak mixed.

Sementara situasi dan kondisi bursa-bursa di Asia sore ini antara lain:  Indeks All Ordinaries menguat 30,10 (0,67%) ke level 4.497,30, Indeks Nikkei 225 anjlok 169,94 poin (1,78%) ke level 9.350,95, dan Indeks NZSE 50 naik 21,45 poin (0,60%) ke level 3.577,32.

Sejumlah saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Surya Toto (TOTO) naik Rp 4.000 ke Rp 45.000, Merck (MERK) naik Rp 1.100 ke Rp 149.600, Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 4.000 ke Rp 162.000, dan Astra Internasional (ASII) naik Rp 750 ke Rp 71.750.

Adapun  saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Bukit Asam (PTBA) turun Rp 200 ke Rp 18.200, Telkom (TLKM) turun Rp 250 ke Rp 8.250, Astra Agro (AALI) turun Rp 200 ke Rp 21.200, dan Adira Finance (ADMF) turun Rp 200 ke Rp 12.900.



Source: Financeroll

Indeks: Alat Evaluasi Strategi Investasi

January 12, 2012

Saat pergantian tahun merupakan saat yang tepat untuk melakukan review atas semua aktivitas yang sudah dilakukan sepanjang tahun, termasuk aktivitas investasi. Berbagai kejadian baik positif maupun negatif pada akhirnya akan berimbas pada tingkat imbal hasil (return) investasi yang diperoleh oleh investor.
Berbagai pertanyaan kritis perlu dijawab agar investor benar-benar mengetahui apakah investasi yang ditanamkan telah berjalan efektif atau sebaliknya. 

Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan antara lain: Apakah imbal hasil investasi saya sudah cukup memadai? Seberapa efektifkah strategi investasi yang sudah dijalankan? Dari jawaban-jawaban yang diperoleh, investor akan tahu bahwa strategi investasinya masih berada di jalur yang benar atau tidak. Dengan demikian investor akan memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan investasi yang lebih baik di masa mendatang.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tentunya dibutuhkan suatu tolok ukur atau acuan yang obyektif sebagai pembanding terhadap tingkat imbal hasil dari kegiatan investasi yang sudah dijalankan. 

Satu diantara alat ukur pembanding yang obyektif, tersedia di pasar dan dapat diakses oleh investor adalah indeks. Ya indeks, marilah kita bahas lebih dalam mengenai indeks dalam kaitannya dengan investasi.

Mengenal Indeks
 
Di dunia pasar modal dan keuangan kita mengenal istilah indeks harga saham, meski sebenarnya indeks bukanlah dimonopoli oleh pasar saham saja tetapi juga digunakan di berbagai pasar lain seperti pasar obligasi maupun pasar valas. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena indeks pertama yang digunakan di bidang keuangan dan pasar modal memang indeks harga saham. 

Adalah Charles H. Dow, seorang wartawan rubrik keuangan, yang menjadi orang pertama dalam memperkenalkan penggunaan indeks untuk memantau harga saham Amerika di tahun 1896. Indeks yang diperkenalkannya adalah cikal bakal dari indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), sebuah indeks harga saham yang banyak diacu oleh para pelaku keuangan dunia hingga saat ini. 

Indeks sendiri adalah indikator statistik yang menunjukan besar kecilnya perubahan dari suatu obyek tertentu. Indeks harga saham akan memberikan gambaran mengenai besar kecilnya perubahan harga di pasar saham dalam suatu periode tertentu. Gambaran mengenai seberapa besar pasar obligasi bergerak naik atau turun juga dapat diperoleh dengan mengamati besar kecilnya perubahan angka indeks harga obligasi. 

Sebuah angka indeks dihasilkan dari serangkaian perhitungan yang mengkaitkan antara harga-harga hari ini dengan harga di hari sebelumnya, sehingga diperoleh gambaran bahwa harga hari ini lebih tinggi atau lebih rendah dibanding hari sebelumnya.

Biasanya nama indeks menjelaskan banyaknya instrumen keuangan yang diikutkan dalam perhitungan indeks tersebut, sebagai contoh perhitungan Indeks Harga Saham LQ45 yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia beranggotakan 45 saham yang dianggap paling likuid di bursa saham, dan Indeks Harga Saham Kompas100 merupakan hasil perhitungan dari 100 saham yang dianggap paling menggambarkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia. 

Dengan menggabungkan metodologi perhitungan indeks dengan pilihan instrumen pasar modal dan keuangan yang dimasukkan dalam perhitungan tersebut, maka indeks diharapkan dapat memberikan gambaran yang akurat tentang kondisi dan arah pergerakan pasar yang mutakhir dari suatu instrumen investasi. 

Semua angka indeks selalui dimulai dari angka 100. Dengan demikian, dengan mengetahui angka indeks yang terakhir, dengan mudah Diketahui seberapa besar kenaikan atau penurunan nilai dari pasar yang digambarkan oleh indeks tersebut. Bila kita mengetahui bahwa Indeks Harga Saham KOMPAS100 ditetapkan pada angka 100 di tanggal 10 Agustus 2002 dan kita tahu angka indeks tersebut di tanggal 10 Agustus 2011 berada di tingkat 881,45, maka kita akan tahu bahwa harga saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia telah meningkat 8 kali lipat di sepanjang periode tersebut. 

Contoh lain (lihat Ilustrasi 1), bila kita mengetahui bahwa Indeks Total Return Obligasi Korporasi IBPA ditetapkan pada angka 100 di tanggal 4 Januari 2010 dan kita tahu angka indeks tersebut di tanggal 23 Desember 2011 berada di tingkat 123.2311, maka kita akan tahu bahwa pasar obligasi korporasi Indonesia telah memberikan imbal hasil (return) bagi investornya sebesar 23,23 persen di sepanjang periode tersebut.

Indeks sebagai Acuan Evaluasi Investasi

Jadi, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa indeks di dunia pasar modal dan keuangan adalah indikator perubahan yang memberikan gambaran tentang apa yang sudah terjadi pasar. 

Dengan demikian kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan di awal tulisan ini. Berbekal Indeks, yang merupakan ukuran obyektif sebagai acuan atau pembanding dari hasil investasi yang sudah diperoleh, maka akan sukses atau tidaknya sebuah strategi investasi dapat diukur secara obyektif. 

Contoh sederhana pengukuran dapat dilihat di Ilustrasi 2. Dalam tampilan grafik tersebut terlihat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (garis warna biru) pada tanggal 23 Desember 2011 menunjukan angka +5 persen, atau bergerak dari angka indeks 3,217.95 pada 23 Desember 2010 dan berakhir di angka 4,195.72 di tanggal yang sama tahun 2011. Sementara di sisi lain, harga saham PT Telkom Tbk. (garis warna hijau) mengalami penurunan harga hingga hampir 10 persen.

Andaikan seluruh dana investasi milik seorang investor hanya dibelikan saham TLKM semata, maka bisa dikatakan investor tersebut mengalami kerugian ganda pada akhir periode tersebut. Kerugian yang pertama adalah bahwa nilai dana investasinya turun hingga hampir 10 persen. Sementara kerugian yang kedua adalah investor tersebut kehilangan kesempatan untuk meningkatkan nilai dana investasinya sebesar hampir 5 persen, bila dibelikan saham selain TLKM dalam periode tersebut.

Berdasarkan evaluasi di akhir periode di atas, dapat disimpulkan bahwa investor tersebut tidak berhasil dengan strategi investasinya. Bahkan bisa dikatakan sebagai “sudah jatuh tertimpa tangga” karena ia mengalami kerugian dari penurunan saham TLKM nya dan tidak menyadari bahwa ada saham-saham lain (diluar TLKM) yang harganya justru sedang naik dengan pesat. Suatu kondisi yang dapat dihindari apabila investor tersebut memahami cara memonitor investasinya dengan menggunakan indeks-indeks yang tersedia di pasar.

Indeks sebagai Alat Monitor Investasi

Investor dalam Ilustrasi 2 di atas sebenarnya jangan menunggu hingga akhir tahun untuk melakukan evaluasi atas aktivitas investasinya. Karena indeks juga merupakan indikator yang cukup efektif untuk membantu investor dalam memonitor investasi yang sedang dilakukan secara berkala.

Andaikan investor tersebut rajin mengamati indeks IHSG setiap bulan dan senantiasa membandingkan dengan harga saham TLKM yg dipegangnya di periode tersebut, maka ia akan sadar pertumbuhan investasi di saham TLKM pada tanggal 11 Maret 2011 sudah turun dn secara terus menerus di bawah rata-rata harga saham yang ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia.

Di sisi lain, hingga tanggal 11 Maret 2011, IHSG terlihat terus naik secara konsisten. Kenaikan angka indeks itu menunjukan bahwa banyak saham-saham lain (selain saham TLKM) yang harganya justru tengah naik tajam.

Dengan berbekal informasi yang disajikan oleh indeks IHSG, maka investor tersebut dapat mulai mencari saham-saham lain yang menyebabkan indeks IHSG tersebut naik. Caranya adalah dengan mencari daftar saham-saham yang diikutkan dalam perhitungan IHSG, dan mengamati pergerakannya saham-saham yang berpengaruh besar terhadap pergerakan indeks IHSG tersebut.

Dari analisis terhadap saham-saham yang menjadi anggota dalam perhitungan indeks IHSG, investor tersebut akan menemukan saham-saham lain yang berpotensi memberikan keuntungan.  Dan bukan tidak mungkin investor tersebut dapat mengambil keputusan untuk menjual saham TLKM dan membeli saham lain seperti yang terlihat dalam Ilustrasi 3.

Dalam Ilustrasi 3, setelah pengamatan dan analisa mendalam terhadap saham apa saja yang sangat mempengaruhi IHSG, maka investor tersebut memutuskan menjual saham TLKM dan membeli saham ASII di bulan Maret 2011.

Setelah pembelian saham ASII, investor itu juga tetap perlu melakukan benchmarking (membandingkan) harga saham ASII terhadap IHSG secara berkala. Tujuannya adalah agar dapat mengantisipasi bila ada kejadian-kejadian yang mengharuskan investor tersebut untuk kembali mencari saham lain untuk menggantikan saham ASII.

Bila investor tersebut disiplin dalam melakukan evaluasi secara berkala tersebut. Maka pada akhir periode (23 Desember 2011), tidak saja investor tersebut terhindar dari kerugian ganda seperti yang digambarkan di Ilustrasi 2, bahkan sebaliknya investor itu memperoleh hasil investasi yang relatif sangat besar yaitu hampir mencapai 40 persen per tahun.



Dari: Berbagai Sumber

Kecemasan terhadap Krisis Utang Zona Euro Seret Jatuh Valuta Asia

January 10, 2012

Kebanyakan valuta Asia mengawali perdagangan pekan ini, Senin (9/1) dengan mencatat penurunan. Pelaku pasar melakukan aksi tutup posisi short atas dolar karena greenback secara teknis memasuki teritori jenuh jual.


Dalam jangka pendek, mata uang regional diperkirakan akan terus tertekan karena kecemasan terhadap krisis utang kawasan euro yang kembali menggema.


Meskipun prospeknya kelabu, ada juga analis yang melihat potensi penguatan mata uang Asia karena adanya alokasi dana baru untuk diinvestasikan tahun ini oleh para hedge fund,melihat fundamental fiskal dan ekonomi yang kuat di kawasan.


Spekulan antar bank menutup posisi short dolar atas ringgit dalam perdagangan sepi di tengah melemahnya euro dan dolar Singapura.


Sejumlah pelaku pasar khawatir bank sentral Malaysia akan melakukan intervensi pada level 3,1700 tapi dealer tidak melihat adanya aksi tersebut.


Baht melemah atas dolar akibat penjualan yang dilakukan investor asing asing, terkait dengan outflow dividen.


Bank lokal dan asing di Bangkok juga melepas baht sebagai imbas kenaikan dolar AS atas dolar Singapura.


Nilai tukar rupiah juga jatuh, karena kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi global akibat terimbas krisis utang Eropa.


Pada awal perdagangan, rupiah berada pada level 9.090.


Sentimen perlambatan ekonomi global menyebabkan surutnya permintaan aset negara berkembang. Harga obligasi tercatat melemah untuk hari yang keempat. Data Inter-Dealer Market Association menunjukkan, yield obligasi pemerintah yang jatuh tempo Mei 2022 naik tiga basis poin ke level 6,24%, sore ini.


Pada pukul 10.00 WIB, rupiah melemah ke posisi 9.175.


Di sisi lain, pekan lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono menyebutkan, ada ruang bagi bank sentral untuk kembali memangkas suku bunga jika dibutuhkan.


Pada tengah hari, rupiah berada di level 9.150.


Namun, mayoritas ekonom yang disurvei Bloomberg memprediksi, bank sentral akan mempertahankan bunga acuan di level 6% pada pertemuan pekan ini.


Sepanjang sore, rupiah bergerak pada kisaran 9.175 - 9.180.


IHSG menguat 19,657 poin (0,50%) ke level 3.889,072.


Rupiah ditutup 9.140 per dolar AS Senin, turun dari 9.090 Jumat.


Kurs terakhir berbagai mata uang Asia terhadap dolar AS, tercatat sebagai berikut:


Dolar Singapura: 1,2973 per dolar AS, turun dari 1,2923


Dolar Taiwan: 30,190 naik dari 30,221


Won Korea: 1.160,45, naik dari 1.162,70


Baht Thailand: 31,75, turun dari 31,60


Peso Pilipina 44,08, naik dari 44,13


Rupee India: 52,65 naik dari 52,80


Ringgit Malaysia: 3,1520, turun dari 3,1450


Yuan China: 6,3144, turun dari 6,3089.


Di Tokio, pasar secara resmi tutup, namun pada bagian lain Asia, dolar bertahan terhadap yen di level 76,94 yen, masih di atas 76,30, titik terendah dua bulan terakhir, yang terjadi pekan lalu.


Pergerakan dolar/yen belakangan ini terjerat pada kisaran sempit karena faktor yang sama yang mewarnai perdagangan dalam beberapa waktu terakhir.


Dolar sulit naik secara signifikan karena adanya tawaran jual dari eksportir pada tingkat yang lebih tinggi.


Sementara yen juga tidak dapat naik dalam kisaran besar karena kekhawatiran pasar terhadap intervensi dari otoritas moneter yang tak ingin melihat penguatan yen berlebihan.


Dolar AS terakhir tercatat 76,94 yen, turun dari 77,96 sebelumnya.


Di London, euro merangkak naik dari titik terburuknya dalam 16 bulan terakhir atas dolar seiring ramainya pelaku pasar melakukan short-covering mata uang tunggal Eropa itu.


Tapi, kenaikan euro kali ini diragukan dapat bertahan lama karena masalah utang zona euro dan prospek ekonominya membuat pasar tetap bearish.


Pelaku pasar menunggu hasil pertemuan pemimpin Prancis dan Jerman yang akan membiacarakan cara meningkatkan pertumbuhan dan melakukan finalisasi detail kesepakatan meningkatkan kordinasi fiskal di blok euro.


Sentimen tertekan hebat ketika majalah Jerman Der Spiegel melaporkan IMF mulai kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan Yunani mengatasi masalah keuangannya.


Kurs dolar AS terhadap valuta- valuta utama lainnya dapat dicatat sebagai berikut:


Yen Jepang: 76,81 per dolar AS, turun dari 76,98


Franc Swiss: 0,9522, turun dari 0,9548


Dolar Kanada:1,0289, naik dari 1,0271.


Sterling terhadap dolar AS: 1,5439, naik dari 1,5433


Euro terhadap dolar AS: 1,2755, naik dari 1,2720.


HARGA EMAS


Di Comex New York, harga bervariasi pada pembukaan perdagangan hari Senin.


Kontrak Februari diperdagangkan pada level $1.615,50 per ounce, turun $1,30 dari sebelumnya.


Harga spot pada jam 13.05 GMT (20.05 WIB) tercatat $1.617,60, bertambah $1,00 dari sebelumnya.


Di London, emas bertahan seiring melunaknya dolar atas euro yang meredakan tekanan jual terhadap emas.


Perdagangan berlangsung penuh kehati-hatian jelang pertemuan pemimpin Jerman dan Prancis dalam pembahasan masalah zona euro.


Fund manager memangkas posisi long pada futures dan opsi emas untuk ke tiga minggu secara berturut-turut bersamaan dengan turunnya harga.


Posisi long emas secara net saat ini berada di titik terendah dalam dua tahun terakhir.


Pada 11.10 GMT (18.10 WIB), harga emas tercatat $1.617,29 per ounce, tidak jauh beda dari $1.616,98 pada fixing sebelumnya.


Harga perak tercatat $28,88 per ounce, naik 0,7% dari sebelumnya.


Di Asia, harga mengingsut turun setelah pasar kehilangan momentum yang mendorong kenaikan pasaran emas hingga 3% pekan lalu bersamaan dengan menguatnya dolar.


Setelah pekan lalu tidak terpengaruh dengan kenaikan dolar, emas akhirnya takluk pada mata uang AS yang menguat hingga tingkat tertinggi dalam 16 bulan terakhir terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.


"Tren pelemahan melanda sektor komoditas karena kenaikan dolar memainkan peran dalam menekan minat investasi," kata Nick Trevethan dari ANZ di Singapura.


Meningkatnya kecemasan terhadap krisis utang zona euro turut menekan emas.


Di Singapura, spot terakhir tercatat $1.613,70 per ounce, turun $3,28 dari penutupan sebelumnya di New York.


Di Tokio, pasar libur


Di Hong Kong, harga emas pada 08.25 GMT (15.25 WIB) Senin tercatat $1.622,50 per ounce, naik dari $1.621,20 Jumat. 



Sumber: Harian Analisa

Belum Ada Sentimen Positif, Rupiah Melemah

January 06, 2012

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Jumat pagi bergerak melemah sebesar 20 poin seiring belum adanya sentimen positif yang dapat mengangkat kepercayaan pelaku pasar keuangan.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Jumat (6/1/2012)  pagi melemah 20 poin menjadi Rp 9.160 dibanding sebelumnya di posisi Rp 9.140 per dollar AS.

Pengamat pasar uang dari Milenium Danatama Sekuritas, Ahmad Riyadi di Jakarta, Jumat mengatakan, nilai tukar dalam negeri kembali melemah terhadap dollar AS masih dipicu dari pelaku pasar yang khawatir terhadap pendanaan sektor perbankan negara kawasan Eropa sehingga mendorong investor menjual mata uang lokal. "Belum ada sentimen positif yang mengangkat pasar uang, sehingga pelaku pasar cenderung melepas mata uang lokal," kata Ahmad Riyadi.

Ia menambahkan, pelaku pasar saat ini sedang mencermati lelang obligasi Italia dan Spanyol pada pekan depan apakah direspon positif nantinya. "Diharapkan, pelaku pasar menanggapi positif dan mata uang euro menguat sehingga nantinya akan berdampak positif bagi nilai tukar di kawasan Asia termasuk Indonesia," kata dia.

Ahmad Riyadi mengatakan, untuk pekan ini pasar keuangan Asia termasuk di Indonesia masih khawatir akan kemampuan pemerintah di negara kawasan Eropa untuk pembiayan kembali utang publiknya. "Merebaknya kekhawatiran kemampuan pemerintah di negara euro untuk pembiayaan kembali utang publiknya menekan mata uang dunia terhadap dollar AS," ujar dia.

Ahmad menambahkan, kondisi Eropa yang belum stabil masih menjadi faktor utama dalam menentukan pergerakan pasar mata uang di dalam negeri. "Pelaku pasar uang lebih cenderung mengambil posisi aman dalam menjaga nilai asetnya ditengah kondisi pasar investasi yang tidak dapat diprediksi sehingga kondisi itu membuat investor enggan masuk ke mata uang berisiko," kata dia.

Meski demikian, kata dia, BI akan tetap menjaga nilai tukar mata uang dalam negeri agar tidak terkoreksi lebih dalam, diperkirakan rupiah akan berada dalam kisaran level Rp 9.100 per dollar.


Sumber: ANT

Pasar AS dan Eropa Bisa Dongkrak Rupiah

Kenaikan pasar Amerika Serikat dan Eropa kemungkinan menjalar ke pasar Asia, termasuk Indonesia, Jumat (23/12/2011). Nilai tukar rupiah atas dollar AS pun bisa kembali naik.

Nilai tukar rupiah kemarin menguat tipis, ditutup Rp 9.068 per dollar AS USD (kurs tengah Bloomberg).

Menurut ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, kenaikan pasar AS dan Eropa bisa berefek positif. Rupiah diperkirakan menguat pada kisaran Rp 9.045 - Rp 9.060 per dollar AS.

Menurut Lana, persetujuan perpanjangan payroll tax cut di AS menambah sentimen positif investor. Ini ditambah dengan perbaikan data AS pada jobless claims yang turun sebanyak 4.000 menjadi 364.000 pada pekan lalu.

"Diikuti dengan keyakinan konsumen yang meningkat bakal menambah keyakinan ekonomi AS tumbuh lebih baik dari ekspektasi," kata Lana.

Wakil Partai Republikan di House, John Boerner setujui rencana perpanjangan payroll tax cut yang akan berakhir pada 31 Desember ini untuk dua bulan mendatang. Sebelumnya terjadi kebuntuan persetujuan, kendati telah disetujui di tingkat Senat melalui voting 17 Desember.

Tanpa persetujuan ini, pajak pendapatan untuk sekitar 160 juta orang akan naik menjadi 6,2% pada Januari 2012 dari posisinya sekarang 4,2 persen. Konsumsi masyarakat menyumbang sekitar 70 persen dari PDB AS. Pada kuartal ketiga lalu, ekonomi AS tumbuh 1,8 persen, di bawah perkiraan sebelumnya 2 persen.



Dari: Berbagai Sumber

Bursa Efek Indonesia Masuk Tiga Besar Dunia

January 04, 2012

Menteri Keuangan Agus Martowardojo, menyampaikan, kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2011 berhasil masuk ke dalam tiga besar bursa berkinerja terbaik dunia.
 
"Pertama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pertumbuhan yang positif dengan tingkat pertumbuhan 3,2 persen yaitu dari 3703,5 pada penutupan Desember 2010, menjadi 3821,9 pada penutupan bursa tanggal 30 Desember 2011. Hal ini cukup membesarkan hati mengingat begitu besarnya dampak krisis keuangan di Amerika Serikat dan kawasan Eropa terhadap pertumbuhan indeks saham secara global," sebut Agus dalam acara pembukaan pasar modal 2012, di Bursa Efek Indonesia, Senin (2/1/2012).
 
Agus menerangkan, IHSG sebenarnya hanya naik 3,2 persen tetapi indeks ini ternyata tercatat sebagai berkinerja terbaik ke-3 di antara bursa-bursa utama di dunia. "Yakni di bawah Indeks Dowjones Amerika yang naik 5,57 persen dan Indeks Philipphines Stock Exchange yang naik 4,07 persen," tambah Agus.
 
Kondisi IHSG ternyata sanggup mengalahkan sejumlah indeks utama lainnya. Agus menyebutkan, indeks negara Singapura mencatat pertumbuhan negatif yakni minus 17 persen, indeks Hongkong minus 19,97 persen, indeks India minus 24,64 persen, dan indeks Schenzen atau Tiongkok minus 32,8 persen.
 
"Sungguh kita syukuri bahwa kita masuk tiga terbaik di antara bursa utama di dunia," tegas Agus.
 
Tidak lupa pula, Agus menyebutkan, IHSG juga berhasil mencatatkan diri sebagai yang terbaik di Asia Pasifik dengan peningkatan sebesar 46 persen pada tahun lalu. Pada tahun 2011 , lanjut dia, pertumbuhan IHSG tersebut berdampak pada nilai kapitalisasi pasar saham yang mencapai Rp 3.537 triliun.
 
"Lebih tinggi dari pencapaian tahun 2010 yang sebesar Rp 3.247 triliun. Atau menjadi 3,3 kali lipat dari market capitalization tahun 2008 ," ucapnya. Di mana pada tahun terjadinya krisis ekonomi yang cukup hebat itu, nilai kapitalisasi pasar saham sempat menyentuh Rp 1.076 triliun.
 
Sementara itu, rasio kapitalisasi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto tahun 2011 mencapai 48,9 persen. Dan, total nilai transaksi saham tahunan kembali mencatat peningkatan sebanyak 4 persen dari Rp 1.176 triliun pada 2010 menjadi lebih dari Rp 1.223 triliun pada 2011 .
 
Menurut Agus, pencapaian positif indikator-indikator utama bursa tidak lain disokong oleh kondisi fundamental emiten-emiten yang tercatat di BEI. Ini, terang dia, cukup melegakan di tengah-tengah dampak yang harus dihadapi dari krisis utang Amerika Serikat dan Eropa kepada pasar modal Indonesia.
 
"Meskipun demikian kita semua harus tetap berhati-hati dan waspada. Dan, sesuai arahan Bapak Presiden kita harus menjaga integritas pasar modal. Dan, kita terus harus melakukan social reform dan financial sector reform. Dengan begitu kita akan dapat menjaga perkembangan pasar modal Indonesia ke depan," ucap Agus. 



Sumber: Kompas

Latest News

Advertise

SHARIA STORE
 

© Copyright KABAR MARKET 2011 | Powered by Blogger.com.