Jakarta
Tokyo
London
New York
Sydney
Latest News :

Popular Posts

Showing posts with label tips trading. Show all posts
Showing posts with label tips trading. Show all posts

Top 10 Reasons George Soros Is Dangerous

January 16, 2012

Human Events’ readers, in an online poll, recently voted billionaire financier George Sorosthe single most destructive leftist demagogue in the country.”  Here are the Top 10 Reasons George Soros Is Dangerous:

1.  Gives billions to left-wing causes:  Soros started the Open Society Institute in 1993 as a way to spread his wealth to progressive causes.  Using Open Society as a conduit, Soros has given more than $7 billion to a who’s who of left-wing groups.  This partial list of recipients of Soros’ money says it all: ACORN, Apollo Alliance, National Council of La Raza, Tides Foundation, Huffington Post, Southern Poverty Law Center, Soujourners, People for the American Way, Planned Parenthood, and the National Organization for Women.

2.  Influence on U.S. elections:  Soros once said that removing President George W. Bush from office in 2004 was the "central focus of my life."  He put his money where his mouth is, giving $23.58 million to various 527 groups dedicated to defeating Bush.  His early financial support helped jump-start Barack Obama’s political career.  Soros hosted a 2004 fund-raiser for Obama when he was running for the Illinois Senate and gave the maximum-allowed contribution within hours of Obama’s announcement that he was running for President.

3.  Wants to curtail American sovereignty:  Soros would like nothing better than for America to become subservient to international bodies.  He wants more power for groups such as the World Bank and International Monetary Fund, even while saying the U.S. role in the IMF should be “downsized.”  In 1998, he wrote:  “Insofar as there are collective interests that transcend state boundaries, the sovereignty of states must be subordinated to international law and international institutions.”

4.  Media Matters:  Soros is a financial backer of Media Matters for America, a progressive media watchdog group that hyperventilates over any conservative view that makes it into the mainstream media.  Now its founder, David Brock, has openly declared war on Fox News, telling Politico that the group was mounting “guerrilla warfare and sabotage” against the cable news channel, and would try to disrupt the commercial interests of owner Rupert Murdoch—an odd mission for a 501(c)(3) tax-exempt educational foundation that is barred from participating in partisan political activity.

5.  MoveOn.org:  Soros has been a major funder of MoveOn.org, a progressive advocacy group and political action committee that raises millions for liberal candidates.  This is the group that had on its website an ad comparing President George W. Bush to Adolf Hitler and ran the infamous “General Betray Us” ad in the New York Times, disparaging the integrity of Gen. David Petraeus.

6.  Center for American Progress:  Headed by John Podesta, White House chief of staff under President Clinton, the Center for American Progress has been instrumental in providing progressive talking points and policy positions for the Obama administration.  There has also been a revolving door between the White House and the Soros-funded think tank, with Obama staffing his administration with many CAP officials.

7.  Environmental extremism:  Former Obama green jobs czar Van Jones and his leftist environmental ideas have been funded by Soros’ money at these groups: the Ella Baker Center, Green For All, the Center for American Progress, and the Apollo Alliance, which was instrumental in getting $110 billion in green initiatives included in Obama’s stimulus package.  Soros also funds the Climate Policy Initiative to address global warming and gave Friends of the Earth money to “integrate a climate equity perspective in the presidential transition.”

8.  America Coming Together:  Soros gave nearly $20 million to this 527 group with the express purpose of defeating President Bush. A massive get-out-the-vote effort, ACT’s door-to-door canvassing teams included numerous felons, its voter registration drives were riddled with fraud, and it handed out incendiary fliers and made misleading taped phone calls to voters.  ACT was fined $775,000 by the Federal Election Commission for violations of various federal campaign finance laws.

9.  Currency manipulation:  A large part of Soros' multibillion-dollar fortune has come from manipulating currencies.  During the 1997 Asian financial crisis, Malaysian Prime Minister Mahathir bin Mohamad accused him of bringing down the nation’s currency through his trading activities, and in Thailand he was called an “economic war criminal.”  Known as “The Man who Broke the Bank of England,” Soros initiated a British financial crisis by dumping 10 billion sterling, forcing the devaluation of the currency and gaining a billion-dollar profit.

10.  Delusions:  Soros has repeatedly said that he sees himself as a messianic figure.  Who but a megalomaniac would make these comments?  “I admit that I have always harbored an exaggerated view of my self-importance—to put it bluntly, I fancied myself as some kind of god” or “I carried some rather potent messianic fantasies with me from childhood, which I felt I had to control, otherwise I might end up in the loony bin.”  If only the loony bin were an option.  As it is, one of the wealthiest men in the world is using his billions to impose a radical agenda on America.



Sumber: Human Events

Jangan Abaikan Utang

January 06, 2012

Seorang pengusaha besar duduk gelisah di ruang tamu direktur utama sebuah bank badan usaha milik negara. Ia sudah duduk 4 jam 30 menit, tetapi sang dirut bank belum juga menerimanya. Padahal, ia ditemani seorang pejabat negara yang berpengaruh.

Tatkala usahawan ini sudah berada di puncak kegelisahan, datanglah sekretaris dirut itu menyampaikan bahwa atasannya sudah keluar kantor karena mendadak dipanggil seorang menteri. Dengan langkah gontai, pebisnis itu kembali ke kantornya di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Pejabat berpengaruh itu menyatakan, ia sebetulnya sudah menggunakan namanya sebagai tameng, berikut ”aspek pertemanan” dengan dirut tersebut. Akan tetapi, upayanya membantu usahawan itu mendapat kredit baru gagal.

Pejabat negara itu mengakui, sebetulnya ia setengah hati membantu usahawan besar tersebut. Namun, kalau akhirnya ia lakukan juga, itu semata karena letih dibujuk-bujuk. Faktor lain, usahawan tersebut temannya semasa di sekolah dasar. Terus terang ia akui, ia bisa memahami mengapa dirut itu itu menghindar bertemu. Pertama karena utang pengusaha besar tersebut di bank BUMN itu sudah Rp 1 triliun. Kalau masih ditambah utang baru, bakal sangat merepotkan. Apabila kelak timbul masalah hukum, dirut itu termasuk yang akan diperiksa penyidik. Kedua, ia ingin mengeluarkan temannya dari kesulitan sekaligus mengarahkannya menjadi usahawan ”yang benar dan lurus”.

Kasus ini merupakan kasus ”biasa” dan kerap terjadi. Banyak debitor berusaha menghindar membayar utang, termasuk mengelak membayar pajak secara penuh. Terjadilah upaya menyuap aparat, membuat laporan keuangan tidak benar, dan sebagainya. Bagi usahawan golongan sesat, sukses tidak bayar pajak dan utang adalah kebanggaan besar.

Sebaliknya, bagi usahawan golongan putih, bayar utang adalah bagian dari martabat, reputasi, integritas, dan menjaga kesehatan perusahaan. Tidak bayar utang dan gagal bayar utang hanya membuat aib. Si pengusaha tidak lagi merasa gagah di depan publik. Ke kantor, malu kepada staf. Ke ruang publik, malu bertemu teman. Ke bank, takut ditagih dan khawatir terjadi penyitaan aset. Semua jadi serba salah.

Usahawan yang bersedia membayar utang umumnya dari generasi pertama dan generasi kedua yang moralnya terjaga baik karena masih menggenggam spirit saudagar tulen: membayar utang sama dengan menjaga harga diri. Tidak bayar utang sama dengan tidak memiliki harga diri.

F Widjaja, salah seorang usahawan besar di Tanah Air, menyebutkan, membayar utang merupakan salah satu elemen paling penting dalam kultur berbisnis. Membayar utang, betapapun sulitnya, harus dilakukan. Jika dipandang perlu, jual seluruh aset perusahaan untuk membayar utang.

Dalam bisnis, kata Widjaja, seseorang tidak akan dipercaya pebisinis lain kalau enggan membayar utang atau gemar membuka cek kosong. Padahal, kita tahu, reputasi dan integritas tinggi adalah harga mati dalam dunia bisnis. Lagi pula, lanjutnya, mengapa ingin menjadi pebisnis yang tanggung. Mengapa tega merusak diri sendiri. Sebab, meski ”hanya” ngemplang utang dua-tiga kali, lalu kehilangan nama baik. Reputasi bisnis menjadi hancur. Ini sungguh suatu perbuatan yang tidak pantas. Harga yang harus dibayar dari ketidakjujuran ini terlampau mahal dan menakutkan.

Pengembang terkemuka Indonesia, Ciputra, menyampaikan hal yang sama. Menurut usahawan ini, membayar utang merupakan cermin tingginya martabat dan moral. Begitu kita bermain-main dengan urusan moral ini, bukan saja nama baik hancur, melainkan juga mitra bisnis enggan berhubungan dengan kita. Pada ujungnya, kita bahkan akan terkucil dan termarjinalkan.



Sumber: Kompas

Tips Trading dari Keseharian Warren Buffet

December 17, 2011

Siapa yang tidak kenal Warren Buffet? Dia menjadi idola bagi para investor, bahkan para profesor ekonomi dari Universitas Harvard menyebutnya sebagai sebuah “mesin”. Buffet adalah suatu tipe mesin, yang melakukan pengolahan data, memakan semua informasi yang bisa didapat, berpikir keras dalam melakukan analisa yang akurat.
Kemampuannya dalam mengungguli market dengan keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan data finansial, dan pemahamannya akan fundamental suatu bisnis membuatnya dijuluki “Peramal dari Omaha”.
Prinsipnya yang terkenal, “Buy when everyone else is selling, sell when everyone else is buying” memerlukan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Lalu muncul sebuah pertanyaan, apakah Warren Buffet tidak pernah membuat kesalahan?

"Buy when everyone else is selling, sell when everyone else is buying"

Seorang “Peramal dari Omaha” pun juga pernah membuat kesalahan dalam keputusan tradingnya. Namun unik nya, para peneliti tingkah laku ekonomi mengatakan bahwa Buffet adalah suatu sosok yang sophisticate, seorang yang sangat sadar akan kekurangan dirinya sendiri dan membangun suatu “sistem” untuk mengatasinya. Dia juga bukan seorang investor yang naif, yang tidak sadar akan ketidak rasionalan nya sebagai manusia, dan tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya.


Dalam kesehariannya, Buffet dikenal sebagai sosok yang sederhana. Setiap paginya dia hanya sarapan sesendok Ovaltine. Buffet sangat takut apabila dia menderita kelebihan berat badan. Dengan pemikiran pragmatis nya yang kuat, dia memutuskan untuk mencegah kelebihan berat badannya dengan menciptakan “alat” untuk membangun komitmen.
Dia menulis sebuah chek berisi USD 10,000 untuk anaknya, dan mengatakan akan menandatanganinya jika dia mengalami kelebihan berat badan pada hari yang telah ditentukan. Namun anak-anak Buffet juga adalah anak-anak yang pintar. Dengan melihat kelemahan trik yang dibuat oleh ayahnya, anak-anaknya memutuskan untuk melakukan “sabotase” agar check tersebut ditandatangani. Satu loyang pizza, sekotak donat, dan snack yang renyah secara misterius muncul ketika Warren Buffet pulang ke rumah setiap harinya.
Pada akhirnya, sampailah pada tanggal yang telah ditentukan. Berat badan Warren Buffet tidak bertambah, dan check tersebut tidak pernah tertanda tangani.

Self-Control – Pengendalian Diri

Tips Trading dari keseharian Warren Buffet yang bisa kita ambil adalah Pengendalian Diri. Sebagai trader kita belajar, tekanan-tekanan yang terjadi di saat kita trading, terkadang akan membuat kita melakukan kesalahan-kesalahan. Warren Buffet telah memberikan kita teladan melalui kesehariannya, dengan membuat “benteng” pengendalian diri diharapkan kita tidak terpengaruh oleh faktor emosi dan tetap komitmen terhadap rencana trading kita.

Latest News

Advertise

SHARIA STORE
 

© Copyright KABAR MARKET 2011 | Powered by Blogger.com.