Jakarta
Tokyo
London
New York
Sydney
Latest News :

Popular Posts

Showing posts with label IIF. Show all posts
Showing posts with label IIF. Show all posts

Equity Fund Redemptions in April are Largest in 17 Years

April 30, 2012

Global investors this month pulled the most money from stock funds in any April in at least 17 years amid escalating concerns that Europe’s economy is faltering. 

Equity funds had net redemptions of $18.6 billion through April 25, according to data from EPFR Global, a research firm based in Cambridge, Massachusetts. The April withdrawals were the largest since at least 1996, the first year for which comparable data is available.

“April has thrown up a lot of things that could change the equation, especially in Europe,” Cameron Brandt, director of research at EPFR, said in a telephone interview. 

Investors have been shifting money from stock funds since the global credit crisis sent the Standard & Poor’s 500 Index (SPX) down 38 percent in 2008. In the U.S., money continues to flow to bond funds even as the benchmark index of big stocks has more than doubled since reaching a 12-year low in March 2009. 

Mutual funds that buy U.S. stocks had withdrawals of $121 billion in the 12 months ending March 31, according to Chicago- based Morningstar Inc. (MORN) which tracks the fund industry. Bond funds attracted $191 billion over the same stretch. 

Europe’s economy is struggling as spending cuts across the region undermine hiring and consumer confidence. Standard & Poor’s cut Spain’s credit rating two steps yesterday on concern the country will have to provide further fiscal support to the banking industry. A contraction of the U.K.’s economy in the first quarter put that country into its first double-dip recession since the 1970s. 

U.S. Equity Category 

Funds that buy U.S. stocks had $17 billion in redemptions through April 25, the most of any category, according to EPFR, which follows investment industry trends globally. Funds that buy western European stocks had withdrawals of $8.3 billion. Stock funds that invest in companies worldwide attracted $10 billion in the same period. 

As a percentage of industry assets, April 2000 had the highest withdrawals on record, according to EPFR’s Brandt. 

The research firm tracks traditional and alternative funds with $16 trillion in assets, including vehicles for institutions as well as individuals. 

Data collected by the Investment Company Institute, a Washington-based trade group, also show equity-fund redemptions. Investors pulled $8.7 billion from domestic stock funds in the week ended April 18 and added $8.7 billion to non-U.S. equity funds and $5.3 billion to bond funds, ICI data show. 

Investors, according to a Wall Street adage, typically sell in May, said Brian Leung, a global equity strategist at Bank of America Merrill Lynch in New York. 

“This year they decided to sell early,” Leung said in a telephone interview. 

Leung’s team, in a note published yesterday, wrote that it will be hard to generate a rally in global stocks “in the absence of big, strong inflows to equity funds.” 



Source: Bloomberg

Dominasi Dolar Bakal Runtuh, Ini Alasannya

March 27, 2012

Dolar Amerika Serikat sudah lama menjadi mata uang global dunia. Selama beberapa dekade penggunaan dolar benar-benar dominan dalam aktivitas perdagangan internasional. Ini memberi keuntungan luar biasa bagi sistem keuangan dan masyarakat Negeri Abang Sam. Dengan dolar, Amerika memegang kendali yang luar biasa di seluruh dunia.

Saat ini lebih dari 60 persen dari seluruh cadangan mata uang asing dunia dalam dolar. Belakangan terjadi perubahan besar. Anehnya, media-media di Amerika bungkam seribu bahasa tentang ini. Sejumlah negara dengan perekonomian terbesar di Bumi telah membuat perjanjian satu sama lain untuk menyingkirkan penggunaan dolar.

Beberapa negara produsen minyak juga mulai menjual minyak dalam mata uang selain dolar, sehingga mengancam sistem petrodolar yang berjalan selama hampir empat dekade. Lembaga internasional besar, seperti PBB dan IMF, bahkan telah mengeluarkan laporan resmi tentang perlunya membentuk sistem mata uang global baru pengganti dolar.

Mau tak mau dominasi dolar sebagai mata uang dunia pasti terancam. »Pergeseran mata uang yang muncul dalam perdagangan internasional tentu saja akan berimplikasi besar bagi perekonomian Amerika,” ujar Michael Snyder, seperti yang dikutip dari Business Insider, Senin, 26 Maret 2012.

Cina adalah negara yang paling getol mendorong perubahan itu. Cina memiliki pendapatan ekonomi terbesar kedua di muka Bumi. Level pertumbuhan ekonomi Cina diproyeksikan melampaui Amerika pada 2016. Bahkan salah satu ekonom memprediksi perekonomian Cina akan tiga kali lebih besar dari ekonomi Amerika pada 2040.

Jadi, para pemimpin di Beijing sedang duduk di sana dan bertanya-tanya, mengapa dolar Amerika harus terus-menerus begitu digdaya jika perekonomian Cina bakal segera menjadi nomor satu di planet ini?

Selama beberapa tahun terakhir Cina dan negara-negara berkembang lainnya, seperti Rusia, diam-diam membuat kesepakatan untuk menjauh dari dolar Amerika dalam perdagangan internasional. Supremasi dolar nyatanya tidak setangguh seperti yang dipercayai kebanyakan orang Amerika.

Berikut ini 10 alasan mengapa kejayaan dolar Amerika sebagai mata uang dunia akan segera berakhir.

#1 Cina dan Jepang Singkirkan Dolar 

Beberapa bulan lalu perekonomian terbesar kedua di dunia (Cina) dan ekonomi terbesar ketiga di Bumi (Jepang) mencapai kesepakatan yang akan mempromosikan penggunaan mata uang mereka sendiri (bukan dolar) dalam perdagangan satu sama lain. 

Hal tersebut kesepakatan yang sangat penting, dan sama sekali diabaikan media Amerika. Seperti yang dilaporkan BBC, Cina dan Jepang mengumumkan rencana mempromosikan pertukaran langsung dari mata uang mereka. Ini sebagai upaya untuk memotong biaya bagi perusahaan dan meningkatkan perdagangan bilateral.

Kesepakatan itu akan memungkinkan perusahaan kedua negara langsung mengubah mata uang Cina dan Jepang. Saat ini bisnis di kedua negara perlu membeli dolar AS sebelum mengonversi ke mata uang yang diinginkan, sehingga menambahkan biaya ekstra.

#2 Rencana BRICs Menggunakan Mata Uang Sendiri

Kelompok BRICs, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, terus unjuk gigi. Perjanjian baru ini akan mempromosikan penggunaan mata uang nasional mereka sendiri ketimbang dolar Amerika dalam perdagangan dengan satu sama. 

Berita yang dikutip dari media di India menyebutkan, kelima negara berkembang utama BRICs mendorong momentum ekonomi yang lebih besar untuk kelompok mereka dengan menandatangani dua pakta untuk memajukan perdagangan intra-BRICs pada pertemuan puncak ke-4 pemimpin mereka di Jakarta beberapa waktu lalu.

Para peneken perjanjian diharapkan meningkatkan perdagangan antarnegara BRICs yang telah tumbuh pada tingkat 28 persen selama beberapa tahun terakhir. Namun nilai perdagangan setara US$ 230 miliar itu tetap jauh di bawah potensi dari kelima pusat kekuatan ekonomi.

#3 Perjanjian Mata Uang Rusia dan Cina

Rusia dan Cina telah menggunakan mata uang nasional sendiri dalam perdagangan satu sama lain selama lebih dari satu tahun. Para pemimpin Rusia dan Cina sangat menganjurkan pembentukan mata uang global baru untuk beberapa tahun. Kedua negara tampaknya bertekad menghancurkan kekuatan dolar AS dalam perdagangan internasional.

#4 Naiknya Penggunaan Yuan di Afrika

Siapa mitra dagang terbesar Afrika? Amerika Serikat? Bukan. Tiga tahun lalu Cina menjadi mitra dagang terbesar Afrika. Cina kini agresif berusaha memperluas penggunaan yuan atau renmimbi, mata uang Cina, di Benua Hitam.

Sebuah laporan dari bank terbesar di Afrika, Standard Bank, baru-baru ini menyatakan, »Kami berharap setidaknya US$ 100 miliar (sekitar 768 miliar yuan) pada perdagangan Sino-Afrika, yang harus diselesaikan dalam renmimbi pada tahun 2015."

Cina tampaknya benar-benar bertekad mengubah cara perdagangan internasional. Pada titik ini sekitar 70.000 perusahaan Cina memakai mata uang Cina dalam transaksi lintas batas.

#5 Kesepakatan Cina-Uni Emirat Arab

Cina dan Uni Emirat Arab sepakat menggusur dolar dan menggunakan mata uang mereka sendiri dalam transaksi minyak satu sama lain. UAE memang pemain kecil, tapi ini jelas sebuah ancaman bagi sistem petrodolar. Apa yang akan terjadi petrodolar jika negara produsen minyak lainnya di Timur Tengah menyusul?

#6 Iran

Iran menjadi salah satu negara yang paling agresif menjauhi dolar Amerika dalam perdagangan internasional. Sebagai contoh, India akan menggunakan emas untuk membeli minyak dari Iran.

Ketegangan antara Amerika dan Iran tidak mungkin tuntas dalam waktu dekat. Iran kemungkinan bakal terus melancarkan aksi yang bisa menekan Amerika Serikat dalam dunia keuangan.

#7 Kerja Sama Cina-Arab Saudi

Siapa importir minyak dari Arab Saudi paling banyak? Bukan Amerika Serikat, tentunya, tapi Cina. Negeri Panda mengimpor 1,39 juta barel minyak per hari dari Arab Saudi pada Februari, naik 39 persen dari tahun sebelumnya.

Arab Saudi dan Cina bekerja sama membangun sebuah kilang minyak besar baru di Arab Saudi. Para pemimpin dari kedua negara telah bekerja untuk agresif memperluas perdagangan antara kedua negara.

Berapa lama Arab Saudi tetap bertahan dengan dolar jika Cina adalah pelanggan mereka yang paling penting? Ini pertanyaan yang sangat penting.

#8 PBB Mendorong Pembentukan Mata Uang Dunia Baru

PBB mengeluarkan laporan yang secara terbuka menyerukan alternatif terhadap dolar AS sebagai mata uang dunia.

Secara khusus, satu laporan PBB menyebutkan, "sebuah sistem cadangan global baru" di mana AS tidak lagi memiliki dominasi. "Sebuah sistem cadangan global baru dapat dibuat, yang tidak lagi bergantung pada dolar Amerika Serikat sebagai mata uang cadangan utama tunggal."

#9 IMF Usulkan Bancor sebagai Mata Uang Baru

Dana Moneter Internasional juga menerbitkan serangkaian laporan yang menyerukan dolar Amerika diganti sebagai mata uang cadangan dunia.

Satu dokumen IMF berjudul "Akumulasi Cadangan dan Stabilitas Moneter Internasional" yang diterbitkan beberapa waktu lalu sebenarnya mengusulkan mata uang global masa depan yang diberi nama "Bancor".

#10 Kebanyakan Negara Dunia Benci Amerika

Sentimen global terhadap Amerika Serikat bergeser secara dramatis. Ini tidak boleh dianggap remeh. Beberapa dekade lalu Amerika adalah salah satu negara yang paling dicintai di Bumi. Sekarang mereka adalah salah satu negara yang paling dibenci. »Jika Anda (warga Amerika) masih ragu,” kata Snyder, 
»Cobalah pergi ke sejumlah negara.” 
Bahkan di Eropa (di mana seharusnya Amerika memiliki teman), Amerika diperlakukan seperti kotoran. 
»Banyak pelancong Amerika terpaksa mengenakan pin Kanada sehingga mereka tidak akan diperlakukan seperti sampah saat bepergian di sana,” ujar Snyder.

Menurut Snyder, sepuluh alasan yang dibicarakan dalam artikel ini tidak akan terjadi dalam semalam, tapi penting dicatat, perubahan ini akan memanas. Jadi kapan ini perubahan besar terjadi? Entahlah. Hanya waktu yang menjawab.




Sumber: Tempo

IMF: Yunani Baru Keluar dari Resesi pada 2014

March 16, 2012

Ekonomi Yunani diperkirakan akan keluar dari resesi pada 2014. Hal ini diungkapkan Dana Moneter Internasional setelah mengumumkan sebuah pinjaman dana talangan baru untuk negara yang dililit utang. 

IMF memproyeksikan ekonomi Yunani akan menyusut sekitar 4,8 persen tahun ini, diikuti dengan pertumbuhan nol pada 2013 dan kembali ke pertumbuhan, pada tingkat tahunan sebesar 2,5 persen, pada 2014.

Para pemberi pinjaman global memperkirakan produk domestik bruto Yunani, sebuah ukuran kegiatan ekonomi, jatuh 6,9 persen pada 2011.

Angka-angka baru menandai revisi penurunan yang signifikan dari perkiraan PDB IMF sebelumnya pada Desember: kontraksi 6,0 persen pada 2011, diikuti dengan kontraksi 3,0 persen pada 2012 dan pertumbuhan, meskipun hanya 0,3 persen, pada 2013.

IMF memperkirakan bahwa tingkat utang Yunani akan naik menjadi 167 persen dari PDB pada 2013, tetapi kemudian terus turun menjadi 117 persen pada 2020.

Itu akan menempatkan Yunani di bawah 120 persen rasio maksimum utang terhadap PDB yang disyaratkan dalam rencana dana talangan Uni Eropa-IMF yang baru bagi negara itu.

IMF menyetujui pinjaman baru 28 miliar euro (36,7 miliar dolar AS) untuk Yunani pada Kamis, bagian dari paket penyelamatan besar Uni Eropa.

"Yunani telah melakukan upaya luar biasa untuk melaksanakan secara luas langkah-langkahluas menyakitkan selama dua tahun terakhir, di tengah-tengah resesi ekonomi mendalam dan lingkungan sosial yang sulit," kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam sebuah pernyataan.

"Namun, tantangan yang dihadapi Yunani tetap signifikan, dengan kesenjangan daya saing besar, tingkat tinggi dari utang publik, dansistem perbankan yang kekurangan modal."



Sumber: Republika

IMF Kucurkan 28 Miliar Euro untuk Yunani

March 15, 2012

Dewan Dana Moneter Internasional (IMF) bertemu pada Kamis untuk menetapkan pinjaman baru bagi Yunani sebesar 28 miliar euro (36,5 miliar dolar Amerika, Rp335,4 triliun), sehari setelah zona euro menandatangani program bailout baru bagi negara tersebut.

Meskipun ada beberapa keraguan di antara anggotanya atas kucuran dana IMF yang cukup banyak ke Yunani dan Eropa yang bermasalah, dan kekhawatiran bahwa friksi politik Yunani mungkin menghalangi kemajuan dalam restrukturisasi keuangan, program pinjaman ini diharapkan untuk mengatasi persoalan.

Setelah menjaga kerahasiaan rencananya selama beberapa pekan sampai Uni Eropa dan Athena bisa menyelesaikan writeoff (penurunan nilai aset) 107 miliar euro (Rp 1,28 bilyun) utang sektor swasta, Jumat lalu Ketua IMF Christine Lagarde mengumumkan proposal lebih besar dari yang diharapkan yaitu 28 miliar euro (Rp 335,4 triliun).

Pinjaman ini akan berjangka waktu empat tahun bukan tiga tahun seperti biasanya untuk fasilitas dana standar diperpanjang IMF (EFF).

Pada hari Rabu, IMF mengatakan pihaknya secara resmi akan memperpanjang jangka waktu FPD maksimum dengan satu sampai empat tahun, yang akan mengakomodasi program Yunani yang diusulkan.

IMF kecewa dengan kemajuan Yunani di bawah pinjamannya sebelumnya 30 miliar euro (Rp 357,69 triliun), bagian dari bailout IMF-Uni Eropa yang gagal untuk mendapatkan keuangan Athena ke arah yang berkelanjutan.

IMF mencairkan 20,3 miliar euro (Rp 242,04 triliun) pinjaman itu. Sisanya telah dibatalkan untuk membuat jalan untuk program pinjaman baru.



Sumber: Yahoo News-Antara

Latest News

Advertise

SHARIA STORE
 

© Copyright KABAR MARKET 2011 | Powered by Blogger.com.